Langsung ke konten utama
Halo! Namaku fatimah, sempat membenci diriku yang perempuan. Di cerita yang lalu, aku menceritakan sedikit kisah tentang aku dan keluargaku, tentang awal dari kebencianku terhadap diriku yang perempuan. Tentang tanya yang tak terjawab mengapa aku merasa dibedakan dari kakak adikku yang "laki-laki".
Kali ini, aku ingin bercerita tentang awal aku masuk dalam dunia perkuliahan. Aku kuliah di kampus yang berlabelkan dengan nama agama. Tak masalah, menurutku. Hanya saja, aku tak diperbolehkan untuk masuk di jurusan yang aku inginkan. Entah apa alasannya. Mungkin, karena jurusan yang aku inginkan mereka pikir tak ada profesi yang jelas setelahnya. Atau, entahlah, itu hanya pikiranku saja. Jadinya, aku menurut saja, karena memang uang kuliah mereka yang membayarkan, karena memang, aku tak bisa membantah satu katapun. Atau karena mungkin, aku takut bahkan tak boleh untuk kuliah ketika tidak menuruti kata-kata mereka.
Bosan dan tidak niat ketika kuliah? Pastinya, karena memang aku tak suka. Tapi aku tak akan menceritakan tentang bagaimana proses perkuliahanku di kelas. Aku ingin sedikit bercerita tentang bagaimana aku mencari jati diriku sendiri sebagai perempuan, dengan diiringi pikiranku tentang ketidaksukaan diriku sebagai perempuan.
Dibalik kebosanan dunia perkuliahan, aku mencari sebuah kesibukan. Aku bertemu dengan teman-teman yang sepemikiran denganku tentang perempuan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CANTIK!

Hai! Aku Annisa, seorang perempuan yang selalu saja ingin merasa cantik. Cantik. Ya, satu kata yang selalu saja menjadi angan banyak perempuan. Cantik. Mungkin juga sebuah kata penggambaran yang selalu dilihat oleh laki-laki dalam diri perempuan. Entahlah atau mungkin pandanganku salah. Cantik. Satu kata, yang mungkin dapat menyanjung diri seseorang atau bahkan dapat membuat orang lain berpikir sebaliknya. Ya, namaku Annisa, seorang perempuan yang selalu saja berusaha untuk membuat diriku cantik. Yang bahkan aku sendiri tak tahu, mengapa aku selalu saja berusaha membuat diriku cantik. Hanya saja, aku selalu melihat teman-teman cantikku yang memakai pemerah bibir dengan segala brand, memakai bedak yang banyak sekali macamnya, memakai pelentik bulu mata yang membuatku terkesima sesaat, melakukan beberapa perawatan untuk kulitnya agar tetap sehat, menggunakan baju-baju indah yang pas di tubuhnya yang membuatku juga ingin melakukan hal serupa. Hanya saja, aku juga ingin diakui cantik ole...

Aku Bukan 'Neng' Aisyah

AKU BUKAN 'NENG' AISYAH Namaku Aisyah, dan aku terlahir dikeluarga yang cukup harmonis menurut orang lain, dan tidak menurutku. Bukankah itu hal normal, menganggap kepunyaan orang lain lebih baik dari yang kita miliki, dan menganggap buruk milik kita. Mungkin orang lain memandang keluargaku cukup harmonis karena adanya beberapa murid yang menimba ilmu agama ditempat kealuargku. Dan dengan alasan itu pula, yang membuatku berfikir bahwa keluargaku tak cukup harmonis. Karena dengan adanya orang-orang yang menimba ilmu tentang agama, aku tak bisa berbuat semauku, seperti apa yang selalu ada dalam anganku. Aku harus bersikap santun, yang katanya tingkah lakuku juga akan ditiru oleh para penimba ilmu agama itu. Dan terlebih, aku diperlakukan sedikit berbeda dari teman-temanku yang lain. Namaku Aisyah, dan aku memiliki definisi keluarga harmonis meurutku sendiri. Dimana dalam satu keluarga itu, dapat bercanda lepas layaknya teman. Dimana sang anak dapat menceritak...

PENTINGNYA WAWASAN NUSANTARA DAN INTEGRASI NASIONAL

Oleh : ZIAROTUL FAUZIAH Email : ziarotulfauziyah57@gmail.com Abstrak  Adanya glosnot dan prestorika yang melanda Eropa Timur mengakibatkan negara-negara Unisoviet dan Yogoslovakia mengalami disintegrasi. Peristiwa di atas memberi dampak negatif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), daerah-daerah fery-fery (penggiran) mulai bergejolak, daerah pinggiran memiliki aspirasi untuk merdeka seperti Timor-timur yang telah merdeka, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Organisasi Papua Merdeka (OPM), Republik Maluku Selatan (RMS). Benih-benih disintegrasi semakin subur ketika Pemerintah Suharto bersifat otoriter dengan pendekatan militer tanpa mengevalusi kebijakan politik perbatasan untuk memakmurkan rakyatnya.  Adanya globalisasi, liberalisasi perdagangan, dan menguatnya new etnisitas (kesadaran hak-hak kesuku bangsaan) semakin menguatnya tuntutan daerah pinggiran meminta hak-haknya baik sosial, politik dan ekonomi untuk mempercepat kesejahteraannya. Faktor-faktor dan kondisi di a...