Langsung ke konten utama

Aku Bukan 'Neng' Aisyah

AKU BUKAN 'NENG' AISYAH


Namaku Aisyah, dan aku terlahir dikeluarga yang cukup harmonis menurut orang lain, dan tidak menurutku. Bukankah itu hal normal, menganggap kepunyaan orang lain lebih baik dari yang kita miliki, dan menganggap buruk milik kita. Mungkin orang lain memandang keluargaku cukup harmonis karena adanya beberapa murid yang menimba ilmu agama ditempat kealuargku. Dan dengan alasan itu pula, yang membuatku berfikir bahwa keluargaku tak cukup harmonis. Karena dengan adanya orang-orang yang menimba ilmu tentang agama, aku tak bisa berbuat semauku, seperti apa yang selalu ada dalam anganku. Aku harus bersikap santun, yang katanya tingkah lakuku juga akan ditiru oleh para penimba ilmu agama itu. Dan terlebih, aku diperlakukan sedikit berbeda dari teman-temanku yang lain.
Namaku Aisyah, dan aku memiliki definisi keluarga harmonis meurutku sendiri. Dimana dalam satu keluarga itu, dapat bercanda lepas layaknya teman. Dimana sang anak dapat menceritakan seluruh hal yang ada dipikirannya dan orang tua akan mendengarkan dengan baik sekaligus memantau perkembangan si anak. Dimana sang anak dapat mengajak seluruh temannya bermain ke rumah tanpa takut si teman itu akan tidak nyaman di dalam rumahnya. Dimana sang anak dapat melakukan seluruh hal yang ia inginkan yang menurutnya itu hal baik dan orang tuanya akan mendukungnya. Dimana sang anak diberi kesempatan untuk memilih hal apapun yang ada dalam hidupnya.
Namaku Aisyah, dan aku menganggap keluargaku sendiri sebagai keluarga yang tak cukup harmonis. Bukan, bukan karena adanya seorang ayah yang tak mengurusi keluarganya, ataupun seorang ibu yang sibuk dengan pekerjaannya, atau karena memiliki saudara yang memiliki pergaulan bebas. Keterbalikan dari itu semua, Ayahku sangat bertanggung jawab dengan keluarganya, ibuku selalu mengurusku dengan baik, dan saudaraku merupakan seorang anak penurut dan berprestasi. Dan itu yang membuatku cukup tertekan, karena 'kesempurnaan' itu, aku juga dituntut untuk menjadi 'sempurna' yang orang lain pikirkan, bukan sempurna menurut pandanganku sendiri. Yahh, aku dituntut untuk menjadi orang yang sedikit berbeda dari orang lain, dan aku membenci itu. Aku tak suka ketika orang lain memperlakukanku secara berbeda. Aku tak suka ketika orang lain menyebutku dengan panggilan yang berbeda. Aku tak suka ketika orang lain menatapku dengan bayang-bayang keluargaku dibelakangku. Aku membenci ketika aku berbuat sesuatu menurut kehendakku dan orang lain mengecamnya karena latar belakang keluargaku. Dan aku ingin sedikit saja terbebas dari semua itu. Sekali waktu saja aku ingin menjadi seseorang yang selalu aku bayangkan.
Setelah menunggu sedikit lama, akhirnya keinginanku terkabul juga. Aku sebagai Aisyah yang sudah sedikit dewasa dikirim ke sebuah universitas yang cukup jauh dari desaku. Dan dengan keterpaksaan yang menyenangkan aku juga berpisah dari keluargaku. Disana tak ada yang mengenalku sebagai putri dari seorang kyai, dan juga yang tak ada memanggilku dengan embel-embel 'neng' (sebutan untuk putri seorang kyai) di depannya. Aku senang, dan bukan hanya senang, aku merasa terbebas. Disana aku dapat menyalurkan keinginanku dan pemikiranku tanpa batas, dan tanpa ada orang yang akan mencelaku karena aku tidak berperilaku selayaknya perilaku 'neng'. Tidak ada seseorang yang mematok kodrat seorang perempuan. Dan pemikiranku pun juga didukung oleh buku-buku yang kubaca dan juga teman-teman yang meiliki pendapat yang sama. Yahh, disini aku memiliki teman yang memiliki pemikiran yang hampir sama, meski tak jarang terdapat pemikiran yang sedikit berbeda dan menimbulkan perdebatan kecil. Lebih dari itu, aku menikmati hari-hariku disana. Dan yang harus aku sadari, aku tak selamanya akan tinggal disana untuk selamanya. Dan tetap aku harus menghadapi keluargaku dan orang-orang yang berada di sekitar keluargaku. Hingga akhirnya aku mulai lelah dan menyerah untuk semua perbedaan itu. Aku mulai tak menghiraukan mereka akan memanggilku dengan apa, atau akan menatapku dengan cara apa. Dan tetap aku akan memberi senyum palsu ketika mereka menyapaku ataupun menatapku. Aku menyerah, karena aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku menyerah karena berfikir inilah memang diriku. Dan sisi kedewasaankupun juga menyuruhku untuk mengahadapi dan menerimanya. Dan perlahan aku mulai terbiasa dengan itu semua.
Disaat perlahan aku mulai menerimanya, dan mencoba sebisaku untuk berubah menjadi seseorang yang mereka bayangkan tentangku. Disaat ketika aku bersusah payah untuk menerima hal yang ada dalam hidupku. Dan disaat aku menyadari bahwa menerima adalah hal tersulit yangpernah kulakukan. Disaat itulah mereka mulai mencelaku lagi. Karena diriku yang sesungguhnya tak sama dengan apa yang mereka bayangkan. Dan apa yang telah aku usahakan tak pernah mereka hargai. Dan apapun yang aku sampaikan untuk membela diriku sendiri, tak pernah mereka dengar, dan tak akan pernah mereka dengar. Dan aku mulai membenci lagi, dan lebih membenci lagi. Akan tetapi aku tak dapat mengatakannya. Dalam hati, aku hanya berteriak, Aku Bukan 'Neng' Aisyah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CANTIK!

Hai! Aku Annisa, seorang perempuan yang selalu saja ingin merasa cantik. Cantik. Ya, satu kata yang selalu saja menjadi angan banyak perempuan. Cantik. Mungkin juga sebuah kata penggambaran yang selalu dilihat oleh laki-laki dalam diri perempuan. Entahlah atau mungkin pandanganku salah. Cantik. Satu kata, yang mungkin dapat menyanjung diri seseorang atau bahkan dapat membuat orang lain berpikir sebaliknya. Ya, namaku Annisa, seorang perempuan yang selalu saja berusaha untuk membuat diriku cantik. Yang bahkan aku sendiri tak tahu, mengapa aku selalu saja berusaha membuat diriku cantik. Hanya saja, aku selalu melihat teman-teman cantikku yang memakai pemerah bibir dengan segala brand, memakai bedak yang banyak sekali macamnya, memakai pelentik bulu mata yang membuatku terkesima sesaat, melakukan beberapa perawatan untuk kulitnya agar tetap sehat, menggunakan baju-baju indah yang pas di tubuhnya yang membuatku juga ingin melakukan hal serupa. Hanya saja, aku juga ingin diakui cantik ole...

PENTINGNYA WAWASAN NUSANTARA DAN INTEGRASI NASIONAL

Oleh : ZIAROTUL FAUZIAH Email : ziarotulfauziyah57@gmail.com Abstrak  Adanya glosnot dan prestorika yang melanda Eropa Timur mengakibatkan negara-negara Unisoviet dan Yogoslovakia mengalami disintegrasi. Peristiwa di atas memberi dampak negatif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), daerah-daerah fery-fery (penggiran) mulai bergejolak, daerah pinggiran memiliki aspirasi untuk merdeka seperti Timor-timur yang telah merdeka, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Organisasi Papua Merdeka (OPM), Republik Maluku Selatan (RMS). Benih-benih disintegrasi semakin subur ketika Pemerintah Suharto bersifat otoriter dengan pendekatan militer tanpa mengevalusi kebijakan politik perbatasan untuk memakmurkan rakyatnya.  Adanya globalisasi, liberalisasi perdagangan, dan menguatnya new etnisitas (kesadaran hak-hak kesuku bangsaan) semakin menguatnya tuntutan daerah pinggiran meminta hak-haknya baik sosial, politik dan ekonomi untuk mempercepat kesejahteraannya. Faktor-faktor dan kondisi di a...