Langsung ke konten utama

CANTIK!

Hai! Aku Annisa, seorang perempuan yang selalu saja ingin merasa cantik. Cantik. Ya, satu kata yang selalu saja menjadi angan banyak perempuan. Cantik. Mungkin juga sebuah kata penggambaran yang selalu dilihat oleh laki-laki dalam diri perempuan. Entahlah atau mungkin pandanganku salah. Cantik. Satu kata, yang mungkin dapat menyanjung diri seseorang atau bahkan dapat membuat orang lain berpikir sebaliknya.

Ya, namaku Annisa, seorang perempuan yang selalu saja berusaha untuk membuat diriku cantik. Yang bahkan aku sendiri tak tahu, mengapa aku selalu saja berusaha membuat diriku cantik. Hanya saja, aku selalu melihat teman-teman cantikku yang memakai pemerah bibir dengan segala brand, memakai bedak yang banyak sekali macamnya, memakai pelentik bulu mata yang membuatku terkesima sesaat, melakukan beberapa perawatan untuk kulitnya agar tetap sehat, menggunakan baju-baju indah yang pas di tubuhnya yang membuatku juga ingin melakukan hal serupa. Hanya saja, aku juga ingin diakui cantik oleh mereka 'perempuan'. Hanya saja, aku juga ingin dianggap aku telah 'merawat' diriku sama seperti mereka 'perempuan'.

Cantik. Satu kata yang tak pernah benar-benar kupahami artinya. Apakah dengan wajah bersih tanpa jerawat sudah dinamakan cantik? Apakah dengan bibir merah, bulu mata lentik, dan pipi kemerah-merahan sudah dinamakan cantik? Atau dengan tubuh jenjang dengan pemakaian fashion yang sedang hits pada jamannya juga dinamakan cantik? Atau keserasian dari itu semua baru dapat dikatakan cantik? Wah sulit sekali ya menjadi cantik kalau begitu.

Cantik. Satu kata yang sepertinya harus ada dalam diri perempuan. Aku tak tahu mengapa. Apa agar bisa dilihat oleh seksual gender lain? Entahlah, aku juga tak tahu. Aku sendiri tak begitu suka dinilai cantik atau sebutan lain dari 'cantik' oleh seksual gender lain. Aku hanya merasa mereka tak berhak menilai kecantikan fisik dari seorang perempuan. Karena mereka bukan perempuan. Mereka tak pernah benar-benar mengerti 'cantik' dari fisik seorang perempuan itu seperti apa.

Cantik. Satu kata yang sepertinya tak bisa lepas dari diri perempuan. Yang sepertinya dapat dinilai secara bebas oleh banyak orang. Entah mengapa aku sedikit tak terima ketika orang lain selain perempuan juga ikut menilai. Terlebih lagi kata 'cantik' itu digunakan untuk keperluan pribadinya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Bukan 'Neng' Aisyah

AKU BUKAN 'NENG' AISYAH Namaku Aisyah, dan aku terlahir dikeluarga yang cukup harmonis menurut orang lain, dan tidak menurutku. Bukankah itu hal normal, menganggap kepunyaan orang lain lebih baik dari yang kita miliki, dan menganggap buruk milik kita. Mungkin orang lain memandang keluargaku cukup harmonis karena adanya beberapa murid yang menimba ilmu agama ditempat kealuargku. Dan dengan alasan itu pula, yang membuatku berfikir bahwa keluargaku tak cukup harmonis. Karena dengan adanya orang-orang yang menimba ilmu tentang agama, aku tak bisa berbuat semauku, seperti apa yang selalu ada dalam anganku. Aku harus bersikap santun, yang katanya tingkah lakuku juga akan ditiru oleh para penimba ilmu agama itu. Dan terlebih, aku diperlakukan sedikit berbeda dari teman-temanku yang lain. Namaku Aisyah, dan aku memiliki definisi keluarga harmonis meurutku sendiri. Dimana dalam satu keluarga itu, dapat bercanda lepas layaknya teman. Dimana sang anak dapat menceritak...

PENTINGNYA WAWASAN NUSANTARA DAN INTEGRASI NASIONAL

Oleh : ZIAROTUL FAUZIAH Email : ziarotulfauziyah57@gmail.com Abstrak  Adanya glosnot dan prestorika yang melanda Eropa Timur mengakibatkan negara-negara Unisoviet dan Yogoslovakia mengalami disintegrasi. Peristiwa di atas memberi dampak negatif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), daerah-daerah fery-fery (penggiran) mulai bergejolak, daerah pinggiran memiliki aspirasi untuk merdeka seperti Timor-timur yang telah merdeka, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Organisasi Papua Merdeka (OPM), Republik Maluku Selatan (RMS). Benih-benih disintegrasi semakin subur ketika Pemerintah Suharto bersifat otoriter dengan pendekatan militer tanpa mengevalusi kebijakan politik perbatasan untuk memakmurkan rakyatnya.  Adanya globalisasi, liberalisasi perdagangan, dan menguatnya new etnisitas (kesadaran hak-hak kesuku bangsaan) semakin menguatnya tuntutan daerah pinggiran meminta hak-haknya baik sosial, politik dan ekonomi untuk mempercepat kesejahteraannya. Faktor-faktor dan kondisi di a...