Hai! Aku fatimah, seorang perempuan, yang lahir dalam keluarga yang cukup harmonis. Tetapi entah mengapa, sejak kecil aku masih kurang nyaman dengan keharmonusan itu. Kurang bersyukur pikirku.
Aku anak kedua dari tiga bersaudara, satu kakak laki-laki, dan satu adik laki-laki. Ya, aku perempuan sendiri. Sejak kecil, entah mengapa atau hanya perasaanku saja, aku selalu merasa dibeda-bedakan dengan kakakku yang "laki-laki". Mungkin karena dia lebih pandai pikirku. Dari SD, aku sudah selalu disuruh untuk membantu pekerjaan rumah, menyapu, mencuci, menyetrika dsb. Pikirku, karna memang anak yang ada waktu itu hanya aku, sementara kakak "laki-laki"ku sudah tinggal dalam asrama. Aku anggap semua itu tidak apa-apa. Lelah? Iya. Tapi mau bagaimana lagi. Teman-teman yang lain bagaimana?. Entahlah, aku tidak terlalu membedakan hidupku dengan hidup mereka, jadi aku tak tahu tentang apa-apa.
Tetapi, seiring berjalannya waktu, rasa lelahku berubah menjadi rasa sedikit kesal. Mengapa?. Karena aku sudah mulai membedakan perlakuan orangtuaku. Aku memiliki seorang adik laki-laki. Entah mengapa dia tak pernah sekalipun melakukan pekerjaan yang telah aku lakukan dari masa sekolah dasar. Dia tak pernah mencuci, menyapu, atau melakukan pekerjaan rumah lainnya. Aku juga mulai membedakan antara diriku dengan kakak "laki-laki"ku, sama seperti adik "laki-laki"ku, dia juga tak pernah melakukan pekerjaan itu. Hanya aku. Dan jika sekali aku tak melakukannya, orangtua ku akan mempermasalahkannya dengan terus menyudutkanku. Dari situ aku berfikir, ada yang salah dalam pikiran keluarga ini, entah apa. Aku hanya bertanya-tanya, mengapa hanya "perempuan" yang memiliki kewajiban membersihkan rumah. Siapa yang menentukan "perempuan" harus begini, "perempuan" harus begitu. Mengapa dengan "laki-laki" tidak demikian. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus ada dalam benakku, hingga aku sendiri sedikit benci dengan diriku yang "perempuan". Dengan diriku yang terus dianggap sebagai "perempuan" dengan pandangan mereka.
Komentar
Posting Komentar