Karena Hidup Perlu Diperjuangkan
Nama Penulis : Gita Savitri Devi
Nama Penerbit : Gagas Media
Ketebalan Buku : viii + 208 hlm; 13 x
19 cm
Tahun Terbit : 2017
Tahun Edisi : 2017
Buku ini mengisahkan tentang perjalanan
hidup seorang Gita Savitri Devi, mulai dari pendidikannya, kisah asmaranya,
perjuangan hidupnya, dan juga pemikiran-pemikirannya. Dimulai ketika ia berada
di masa akhir sekolah SMA nya. Gita yang merasa tak memiliki passion apapun
akhirnya membulatkan tekad untuk kuliah di salah satu universitas negeri yang
cukup favorit, akan tetapi ketika dia telah dinyatakan diterima di Universitas
itu, ibunya menawarkan pilihan lain yang menurut Gita itu juga merupakan
nasehat plus perintah. Kuliah di Jerman. Gita pun akhirnya melepaskan
tekad bulatnya dan menuruti keinginan ibunya. Akan tetapi, untuk kuliah di
Jerman tak semulus seperti apa yang ada dipikirannya. Dia harus menunggu satu
tahun terlebih dulu, karena umurnya yang tidak mencukupi. Dia merasa apa yang
direncanakan gagal seketika, mulai dari ingin memakai sebuah coat tebal,
kuliah selesai tepat waktu seperti teman-temannya yang ada di Indonesia, dan
bahkan akan melebihi teman-temannya yang ada di Indonesia, karena dia kuliah di
luar negeri. Setahun berlalu dan akhirnya Gita menginjakkan kakinya di Jerman.
Dan ketika di Jerman pun dia tidak bisa langsung masuk ke bangku perkuliahan,
karena ada kelas wajib yang harus diikuti oleh orang dari luar negeri. Dan juga
karena dulunya ketika SMA dia tidak begitu serius untuk belajar, di Jerman ini
dia berusaha untuk mengejar ketertinggalannya, karena konsekuensi ketika ia
tidak lulus akan dipulangkan ke negeri asalnya. Menurut Gita, belajar di Jerman
sangat berbeda dengan belajar di Indonesia, yang mana di Indonesia sangatlah
praktis, semuanya udah dari guru, berbeda dengan di Jerman, apa-apa pelajar
yang harus mencari sendiri. Gita berusaha cukup keras agar setidaknya dia dapat
lulus pada mata pelajaran-mata pelajaran yang diambilnya sampai dia merasa muak
dengan apa yang dinamakan belajar. Dan dimana-mana hasil tak pernah menghianati
usaha, dia dapat menyelesaikan mata pelajaran-mata pelajaran yang diambilnya
dan juga dapat diterima di kampus yang cukup bergengsi di Jerman.
Beralih dari perjuangan Gita di dunia
pendidikan, sekarang ke perjuangan Gita hidup di Jerman. Memang sih perjuangan
pendidikan juga termasuk perjuangan hidup. Tetapi peresensi disini lebih suka
membedakannya hal-hal yang berhubungan langsung dengan dunia pendidikan dengan
hal-hal yang tidak berhubngan langsung dengan dunia pendidikan. Di mulai ketika
Gita merasa terkhianati oleh kekasihnya yang berada di Jakarta. Gita bertemu
dengan seorang laki-laki bernama Paul yang menurutnya ‘nyambung’ dengan dirinya
yang menurutnya mampu merubah diri Gita menjadi orang yang lebih baik lagi. Hubungan
mereka berdua pun lama-lama juga semakin dekat dengan mengetahui satu sama lain
tanpa berubah menjadi orang lain. Akan tetapi, ada satu hal yang sangat
disesalkan oleh Gita. Paul berbeda agama dengannya, Gita yang berasal dari
keluarga muslim taat dan begitu pula Paul, berasal dari keluarga Kristen taat.
Dari masalah itu, Gita merasa dilema, disisi dia sudah merasa nyaman dengan
Paul dia juga merasa bahwa hubungannya akan sia-sia hanya karena satu perbedaan.
Disini Gita memutuskan untuk mencoba mengajak Paul untuk mengenal agama Islam,
agar hubungan mereka tetap dapat berjalan tanpa ada rasa dilema dalam diri
Gita. Dan paul pun tetap bergeming pada pendirian agamanya. Dan juga karena
beberapa hal juga, Gita tersadar kalua segala sesuatu tidak dapat dipaksakan
sesuai dengan kehendaknya, terutama hal sesensitif keyakinan. Hingga pada suatu
hari Paul mengalami sebuah masalah dan yang juga membuat Paul sedikit ragu untuk
berdoa kepada siapa. Akhirnya Gita pun mencoba untuk mengajaknya shalat, dan
tanpa dugaan Gita, Paul langsung menyetujuinya. Semenjak itu, Paul sering mencari
tahu artikel-artikel Islam dan bacaan-bacaan yang berbau tentang ke Islaman,
dan hingga akhirnya Paul memutuskan untuk masuk agam Islam. Pada saat itu Gita
adalah sorang perempuan yang tak berhijab, karena menurutnya pakaian seseorang
tidaklah harus ada aturan yang mengikat, cukup saja dengan berpakaian sopan
secara wajar. Gita memiliki banyak alasan untuk tak memakai hijab, mulai dari
dia masih ingin memamerkan rambutnya, takut akan sulit mencapai karir yang
diinginkannya, takut didiskriminasi, hingga dia takut perilakunya tidak dapat
mencerminkan perilaku wanita berhijab yang sesungguhnya. Akan tetapi Gita
tersadar semua alasan itu tak dapat menghalangi seseorang untuk memakai
kerudung.
Gita Savitri Devi adalah sesosok influencer
social media, yang selalu membuat konten bermanfaat di laman youtube nya.
Ulasan dalam channel youtube Gita pun cukup menarik sehingga ia dapat
menghasilkan rupiah dan dapat membiayai hidupnya sendiri dari unggahan video-videonya.
Dalam laman youtube- nya terdapat bermacam-macam hal yang dibahas
olehnya. Mulai dari tutorial daily make up, review skincare, tutorial
hijab, hingga opini-opini yang sangat pas jika didengarkan oleh kids jaman
now. Selain aktif menjadi seorang influencer di media sosial, dia
juga seorang mahasiswa yang kebetulan kuliah di Jerman dengan jurusan kimia
murni. Dan untuk memperluas pertemanannya, Gita juga sering mengikuti kegiatan
pertukaran pelajar yang berada di benua tersebut. Dan buku yang berjudul ‘Rentang
Kisah’ ini merupakan buku pertama yang ia terbitkan.
Buku yang menceritakan kisah
perjalanan hidup Gita Savitri ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan
dari isi buku ini diantaranya adalah, pokok bahasan yang diceritakan disini sangat
dapat menginspirasi pembacanya agar dapat lebih berhasil dengan melewati
perjuangan yang cukup keras. Gita juga mengajak pembacanya agar dapat menerima
secara ikhlas apa yang telah terjadi pada diri kita dan berjuang keras dengan
apa yang ada dihadapan kita. Selain itu Bahasa yang digunakan Gita dalam
menceritakan perjalanan hidupnya juga cukup komunikatif, sehingga kita dapat
membayangkan atau juga merasakan secara langsung perjuangan hidupnya. Cerita
yang diungkapkan Gita pun juga cukup runtut, sehingga untuk seseorang yang
tidak begitu suka membaca akan lebih mudah memahaminya, mengingat penggemar
Gita bukan dari kalangan yang hobi membaca saja. Dan dalam buku ini Gita juga
memaparkan pahit manisnya kuliah di luar negeri dan menjadi minoritas karena
agama yang dianutnya tanpa harus mencela perbedaan orang lain karena
keterbukaan pemikirannya. Sehingga pembaca disini dapat belajar bahwa untuk
kuliah di luar negeri bukanlah hal main-main karena ingin terlihat keren saja,
akan tetapi ada banyak hal yang harus dikorbankan dibalik kerennya kuliah di
luar negeri, dan membuat pembaca akan berfikir lebih matang lagi untuk membuat
sebuah keputusan dalam memilih tujuan pendidikannya.
Selain kelebihan, buku ini juga
memiliki ketidaksempurnaan. Antara lain, Gita dalam membuat membuat sebuah
kesimpulan pemikiran tentang pendidikan di Indonesia masih belum memiliki bukti
yang konkret. Seperti contoh ketika dia membandingkan pendidikannya ketika dia
kuliah di Jerman dengan ketika dia masih di SMA. Dalam tulisan itu Gita seperti membayangkan
bahwa sistem kuliah di Indonesia itu sama dengan sistem ketika dia sekolah di
bangku SMA. Yang notabenenya di bangku SMA guru yang selalu berjuang keras
dengan pendidikan murid-muridnya dan murid-muridnya hanya menerima saja. Sedangkan
di Jerman, Gita menceritakan bahwa dia harus berjuang sangat keras untuk
mendapatkan sebuah ilmu. Akan tetapi kenyataan di Indonesia pada bangku
perkuliahan pun mahasiswa juga harus berjuang keras untuk mendapatkan ilmunya,
dan bukan dosen yang harus berjuang keras agar mahasiswa-mahasiswanya pandai.
Dari penilaian penulis, buku ini sangat
direkomendasikan untuk dibaca, karena buku ini menceritakan tentang perjuangan
seorang anak muda untuk begaimana dia menyelesaikan berbagai masalah dalam
hidupnya dan hal tersebut dapat sekali di contoh oleh pemuda-pemuda yang
lainnya, agar tidak mudah berputus asa. Dan nilai moral dalam buku ini juga
dapat di contoh, dimana Gita selalu berfikir secara menyeluruh tanpa harus
membeda-bedakan orang yang ada di sekitarnya.

Komentar
Posting Komentar